Senin, 10 Agustus 2015

POLO PADANG



POLO PADANG
Cerita ini hanya berkembang dan diketahui orang Toraja yang sudah lanjut usia.Orang sekarang ini yang ada di Toraja,semakin modern dan banyak melupakan budaya-budaya Toraja.Sebenarnya cerita rakyat khususnya orang Toraja sangatlah banyak.Akan tetapi,yang diketahui orang sekarang yaitu cerita itu-itu saja.Terus diulang-ulang,karena kurangnya rasa ingin tahu yang tinggi.Contoh cerita rakyat Toraja yang sudah sangat popular antara lain:Cerita Landorundun,dan Tulang Didi.Cerita ini sudah sangat melegenda di Toraja bahkan luar Toraja.Seperti cerita Landorundun yang saking populernya sampai dibuat menjadi Novel.Tidak ada salahnya,jika kita mengetahui lebih banyak lagi cerita rakyat yang belum banyak digali selama ini.Selain untuk menambah wawasan kita.Cerita rakyat juga bisa menambah kekayaan budaya Indonesia.Dari situ,kita bisa membangun karakter bangsa yang bermoral,teladan dan patut dicontoh oleh bangsa lain.Cerita rakyat Polo Padang ini merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia secara umum,dan masyarakat Toraja secara khusus.
 Dahulu,di daerah Toraja,secara khususnya daerah Gantanan,Kecamatan Kesu’,ada seorang pemuda yang bernama Polo Padang.Dia hidup sebatang kara.Ayah dan Ibunya sudah meninggal.Polo Padang lahir sekitar seribu tahun lalu.Cerita rakyat ini sungguh terjadi sekitar seribu tahun lalu.Sekarang di daerah itu,masih ada sumur yang diyakini masyarakat sekitar,sebagai tempat yang sering ditempati Polo Padang dan Para Bidadari mengambil air dan mandi dahulu kala.Cerita Polo Padang ini,belum banyak diketahui oleh orang awam.
Pada suatu hari,Polo Padang sedang duduk termenung,memikirkan nasibnya yang sebatang kara itu.Disaat itu,sampailah 7 Bidadari dari Khayangan atau dalam Bahasa Toraja disebut Baine Maballo’.Ketujuh Bidadari tersebut,turun dari Khayangan untuk mandi di sebuah sumur.Tidak jauh dari situ,Polo Padang duduk termenung.Ketujuh Bidadari itu mandi dengan eloknya dengan rambut yang terurai nan menggoda.Tak beberapa saat pun,Polo Padang mendengarkan ketujuh Bidadari yang sedang asyiknya mandi.Mungkin Polo Padang sangat tergoda dengan Bidadari tersebut,sehingga Polo Padang dengan hati-hatinya mengendap-endap ke tempat permandian ketujuh Bidadari tersebut.Dia mengambil salah satu slendang dari ketujuh Bidadari itu.Setelah selesai mandi,para Bidadari itu memakai kembali pakaian mereka,dan tak lupa slendang yang berwarnah-warnih nan mengkilau.Akan tetapi,kebahagiaan ketujuh Bidadari itu harus berubah menjadi kesedihan kepada salah satu Bidadari .
“Slendang milik aku mana?”,sahut salah satu Bidadari yang cantik nan menawan itu.Mereka pun mulai mencari slendang itu,tetapi tidak ditemukan karena telah dibawa lari oleh Polo Padang.
  “Sudah saatnya kita pulang,kamu harus tinggal,karena kamu tidak mempunyai slendang.Kamu tidak bisa pulang ke Khayangan”,                                                    sahut salah satu Bidadari.
Bidadari tersebut pun harus pasrah dengan nasibnya.Bidadari yang lain pun berangkat ke Khayangan dengan kibasan slendang mereka masing-masing.Bidadari tersebut pun duduk termenung di atas batu sambil menangis dengan kerasnya.Saking kencangnya,Polo Padang mendengar tangisan Bidadari itu dan datang menghampirinya.
  “Sedang apa kamu disini?”,Tanya Polo Padang dengan pura-pura tidak tahu.               “saya ditinggal saudara-saudara saya,karena slendang saya hilang entah kemana”
 jawab Bidadari dengan seduh sedan disertai air mata yang bercucuran turun dari kelopak mata nan anggun itu.                                                                                 Tampaknya Bidadari itu sangat sedih.
   “Apakah kamu mau,menjadi istriku,agar kita bisa tinggal bersama untuk berladang” tanya Polo Padang dengan malunya.                                                                                     Saat itu pun,Bidadari tersebut berhenti menangis dan berkata dalam hati                “jika aku tidak menerimanya,dengan siapa aku tinggal di Bumi ini”. 
Tak beberapa saat pun,Bidadari itu menerima permintaan Polo Padang.Akan tetapi,Bidadari itu memberikan satu syarat yang harus dipenuhi oleh Polo Padang.
“Saya menerima permintaanmu,tetapi dengan satu syarat,kamu tidak boleh mengatakan perkataan mengutuk,bersumpah,atau perkataan kurang baik dihadapanku”.                                                                                                               Seketika itu juga Polo Padang langsung berjanji dan tak sabar memperistri Bidadari cantik nan jelita tersebut.
            Mereka pun hidup bersama,dan mereka memullai bercocok tanam atau berkebun di lading milik mereka.Berbagai jenis bahan pangan, mereka tanam dan budidayakan seperti Jagung yang dalam Bahasa Toraja disebut Dalle,ubi,sayur-sayuran yang dalam Bahasa Toraja disebut Utan,dan gandum yang dalam Bahasa Toraja disebut Kaise’.Polo Padang dan Bidadari tersebut hidup bahagia dan beberapa bulan kemudian,mereka dianugerahi seorang putra yang diberi nama Paerunan.Berselang beberapa hari kelahiran putra mereka,semua tanaman yang mereka tanam dan budidayakan dahulu tumbuh subur dan menghasilkan buah dari kerja kera mereka sepanjang hari.Ubi yang mereka tanam berisi banyak,jagung berbuah banyak,sayur-sayuran tumbuh subur dan gandum atau Kaise’ berisi banyak.Tetapi kebahagiaan itu disertai dengan suatu masalah baru.Berselang beberapa hari semua tanaman mereka tumbuh subur,akhirnya semua tanaman mereka dimakan tikus.Polo Padang pun datang menghampiri dan semua kebahagiaan itu menjadi kemarahaan,dengan penuh emosi.Saking emosinya Polo Padang mengeluarkan kata-kata mengutuk kepada tikus itu dan Bidadari yang merupakan istrinya mendengar dan lari keluar rumah menghampiri Polo Padang
“Apa yang kamu katakan itu,kamu telah melanggar perjanjian kita sebelumnya,” dengan penuh emosi Bidadari meniggalkan Polo Padang.
“Aku tidak sengaja,tolong maafkan aku”.
jawab Polo Padang dengan teriak kepada Bidadari yang pergih meniggalkannya.dengan cepatnya Bidadari itu pun menuju Paerunan untuk dibawah pergih.Polo Padang berusaha mengejar tetapi,dia tidak bisa menemukan jejak Bidadari tersebut.
“Ahh..payah..,kenapa bisa aku menyebut perkataan itu,dasar payah” .Polo Padang pun menyesal dan menyalahkan diri sendiri.
Hari demi hari pun berlalu,sepanjang hari Polo Padang selalu melamun mengingat masa lalunya yang berpisah dengan istri dan seorang putranya.Entah dimana istri dan putranya berada.
“Ahh..kapan ya,aku ketemu lagi dengan anak dan istriku”,pikir Polo Padang sambil menggaruk kepalanya seperti orang yang tidak waras.
 Di suatu hari,Polo Padang duduk termenung di bibir sumur entah apa yang dipikirkan.Tak beberapa saat pun Polo Padang melihat beberapa gadis yang berjalan hamper bersamaan sambil membawa kendi atau dalam Bahasa Toraja disebut Lampa untuk diisi air.Pelan-pelan Polo Padang mendekati para gadis itu dan bertanya
“sedang apa kalian disini?” tanya Polo Padang dengan penasarannya.                  “Kami akan mengambil air untuk memandikan Paerunan”, jawab para gadis itu.
Gadis-gadis tersebut merupakan suruhan Bidadari yang merupakan istri Polo Padang sebelum akhirnya mereka berpisah.Polo Padang pun segera mengambil Gasing Emas yang merupakan mainan anaknya yang selalu dia bawa kemana pun dia pergih.Polo Padang memasukkan Gasing Emas itu kedalam salah satu kendi gadis-gadis itu,dengan harapan Gasing Emas itu bisa dilihat istri dan anaknya yang rindukannya.Setelah mengambil air,para gadis itu segera bergegas untuk pulang memandikan Paerunan.Jalan setapak dilalui para gadis itu untuk sampai ke rumah Paerunan.Tak beberapa lama kemudian,gadis-gadis itu sampai dengan masing-masing membawa kendi yang sudah diisi air dari sumur.Bidadari atau ibu Paerunan menyuruh agar segera menuangkan air itu kedalam kendi yang lebih besar untuk memandikan Paerunan.
       “Ayo..tuangkan semua air kedalam kendi ini!”,suruh ibu Paerunan.                        Para gadis itu pun menuruti permintaan ibu Paerunan dan langsung menuangkan satu persatu air dalam kendi ke kendi yang lebih besar lagi.Akan tetapi saat gadis yang terakhir  menuangkan airnya,terdapat Gasing Emas yang ikut tertumpah kedalam kendi yang secara diam-diam dimasukkan oleh Polo Padang agar anak dan istrinya melihat.Ibu Paerunan melihat Gasing Emas itu.Saat itu Ibu Paerunan langsung terkaget dengan keberadaan Gasing Emas itu atau dalam Bahasa Toraja disebut Gasing Bulaan.
 “Apakah tadi kalian bertemu dengan seseorang?”,tanya Ibu Paerunan.                    “Ya..,kami bertemu dengan seorang lelaki”,jawab gadis-gadis itu.
 Hati Ibu Paerunan pun langsung kaget dan membayangkan sesosok Polo Padang yang merupakan suaminya.Ibu Paerunan pun menyuruh para gadis untuk tidak memberitahukan dimana keberadaan Paerunan jika mereka bertemu lagi dengan orang itu.Karena Ibu Paerunan tahu,bahwa lelaki itu adalah Polo Padang.Entah kenapa Ibu Paerunan tidak mau menunjukkan Paeruan kepada Polo Padang.Di hari itu pula,Polo Padang terus menangis mengingat istri dan anaknya,karena dia sangat merindukan mereka yang merupakan darah daginnya.
Lalu datanglah para gadis yang merupakan suruhan Ibu Paerunan menghambur Gandum atau dalam Bahasa Toraja disebut Kaise.Mereka menyuruh Polo Padang untuk memungut kembali.
“Jika kamu memang ingin bertemu dengan anakmu,pungutlah Gandum ini terlebih dahulu dari tanah!”,suruh gadis itu.
            Bagaimana bisa Gandum sekecil itu dipungut kembali dari tanah.Polo Padang pun langsung menuruti permintaan para gadis demi bertemu dengan anaknya.Saat itu Polo Padang beruntung.Dia bertemu dengan seekor Jalak Hitam yang bisa bicara.
“Tenanglah Polo Padang aku akan membantumu memungut kembali Gandum itu”,sahut Burung Jalak Hitam itu.
  Polo Padang sangat kaget saat mendengar Burung bisa bicara.Tanpa berpikir panjang Polo Padang menerima tawaran si Burung Jalak.
“Baiklah,aku menerima tawaranmu”,jawab Polo Padang dengan wajah yang berseri-seri entah dia sangat senang atau alasan lain.                                                                         Maka terpungutlah Gandum-gandum itu dengan bantuan Jalak Hitam yang mematok satu persatu dengan parunya,hingga pada akhirnya  semua gandum yang ada di tanah berhasil dikumpulkan kembali berkat bantuan si Jalak Hitam.
“Terimakasih Jalak,engkau sudah meringankan pekerjaanku”,sahut Polo Padang begitu senangnnya.       
Semua Gandum itu sudah terpungut habis,Polo Padang pun berjalan menuju para gadis membawa kembali Gandum yang sudah dipungutnya.
 “Tugas saya sudah selesai,apakah saya sudah saya?”,tanya Polo Padang.                                                                                                                  “Bukan berarti tugasmu selesai,kamu harus menyelsaikan tugas kedua yang diperintahkan Ibu Paerunan”,jawab gadis-gadis itu.
 “Tugas apa itu?”,tanya Polo Padang dengan penasaran.                                                “Kamu harus mencabut smeua ubi yang ada diladangmu!”,suruh para gadis. “Baiklah aku akan melaksanakannya demi bertemu dengan anak dan istriku”.  
 Tentu tugas kedua ini sangat berat.Bagaimana tidak,dia harus mencabut semua ubi yang ada diladang yang lumayan besar.Polo Padang pun melaksanakan tugasnya itu dengan senang hati.Keringat Polo Padang sudah mulai bercucuran.Tetapi ubi yang dia cabut baru dua tangkai,belum semuanya.Sungguh pekerjaan yang sangat berat.Tiba-tiba,datanglah seekor Ulat Tanah yang juga bisa bicara.Lagi-lagi Polo Padang terkaget dengan Ulat yang bisa bicara.
 “Bagaimana bisa kamu bicara?”,tanya Polo Padang dengan terheran-heran. “Tenang,kamu tidak perlu takut,aku adalah hewan biasa yang diberi keistimewaan oleh yang kuasa,apakah kamu mau Polo Padang untuk kami bantu memakannya,agar cepat selesai.”,sahut Ulat Tanah.                                                                                     “Tentu aku mau!”,jawab Polo Padang dengan senangnya.
  Tak beberapa lama kemudian semua ubi yang ada diladang ludes, habis dimakan Ulat Tanah.Tentu hal itu sangat menggembirakan bagi Polo Padang,karena pekerjaannya cepat selesai.Itu artinya,Polo Padang bisa bertemu dengan anak dan istrinya. “Terimakasih Ulat,kamu telah membantuku”,sahut Polo Padang.                                     Dia berterimakasih kepada Ulat Tanah yang telah membantunya.Setelah memakan semua ubi yang ada diladang milik Polo Padang,Ulat itu dan kawannya berubah ukuran dari sangat kecil hingga seperti jempol orang dewasa.Polo Padang sangat geli melihat ulat-ulat itu berubah ukuran menjadi besar.Dia pun bergegas untuk pergih ke rumah istri dan anaknya,dengan ditemani beberapa gadis suruhan Ibu Paerunan untuk menunjukkan jalan.Saat mereka sampai di depan rumah istri dan anaknya,Polo Padang hendak membuka pintu depan rumah istri dan anaknya,tetapi tidak bisa dibuka.Polo Padang ingin mencari bantuan kepada para gadis tadi,tetapi para gadis tersebut hilang tak tahu kenapa.Saat itu Polo Padang semakin terheran-heran,mengingat hari itu semua hal yang dilakukannya selalu datang hal-hal aneh diluar pikiran sehatnya.Mulai dari Jalak Hitam dan Ulat Tanah yang bisa bicara,hingga para gadis yang sekejap menhilang.Di depan pintu rumah istri dan anaknya yang tidak bisa dibuka,Polo Padang langsung berlutut menangis dan memintah ampun kepada yang Kuasa atas segala salahnya sampai dia tidak bisa bertemu dengan anak dan istrinya sendiri.Betapa malang nasib Polo Padang.Polo Padang pun terus menangis hingga seekor tikus datang mengampirinya dan berkata,
“kenapa kamu menangis Polo Padang?”,tanya seekor Tikus.                                       Lagi-lagi Polo Padang menemukan hal aneh.
“Aku sangat ingin bertemu dengan anakku,tetapi pintunya tidak bisa dibuka”,jawab Polo Padang.
           “Tenanglah Polo Padang,aku akan membantumu dengan menggigitnya agar pintunya bisa terbuka”,sahut Tikus.
           “Krek..krekk..krekk”,tikus pun beraksi untuk menggigitnya.Tak beberapa lama kemudian,pintunya terbuka.
 “Terimakasih Tikus,engkau telah membantuku”,sahut Polo Padang kepada Tikus.Tetapi,Polo Padang harus menghadapi masalah lagi.Setelah rumah itu terbuka,didalamnya sangat gelap.Polo Padang tidak bisa melihat apapun didalam rumah itu.Lagi-lagi dia harus menemui keanehan.Polo Padang bertemu dengan seekor Kunang-kunang,atau dalam bahasa Toraja disebut Luppepe’.
 “Tenanglah Polo Padang,kami akan membantumu untuk menerangi rumah ini.Jika nanti kami berkumpul di suatu sudut ruamh ini,disitulah tempat istri dan anakmu”.Polo Padang hanya terdiam terheran-heran.
Tetapi,dia akhirnya menerima petunjuk Kunang-kunang.Beberapa lama kemudian,Polo Padang melihat sekumpulan Kunang-kunang di salah satu sudut rumah dan mempersatukan terang yang ada di pantat mereka.Polo Padang pun melangkah ke sudut rumah itu secara pelan-pelan dan akhirnya perkataan Kunang-kunang itu benar.Disitu ada istri dan anaknya yang sedang duduk berpangkuan diatas sebuah kursi tua.Saat itu Polo Padang sangat senang dan berbahagia.
 “Anakku…Istriku..terimakasih Tuhan…!”,teriak Polo Padang saat melihat anak dan istrinya.
Saking senangnya, Polo Padang ingin memeluk anak dan istrinya,tetapi Ibu Paerunan tidak mengijinkannya.Dengan maksud agar anaknya terhindar dari dosa abadi yang dilakukan Polo Padang dahulu.Hanya sekejap melihat,Polo Padang disuruh untuk pulang karena telah melihat anaknya.
“Pulanglah Polo Padang..,kamu telah melihat putramu,sekarang kembalilah ke asalmu semula untuk kembali berladang”,perintah Ibu Paerunan.
 “Walaupun aku tidak bisa memeluk anakku..,melihatnya saja sudah cukup.Baiklah kalau itu yang engkau mau,aku akan pulang”,jawab Polo Padang dengan perasaan sedih dan tetesan air mata.
Walaupun hanya sekejap melihat anak dan istrinya,Polo Padang sangat bersyukur karena harapannya selama ini telah tercapai yaitu bertemu dengan anak dan istrinya.Polo Padang pun kembali ke rumahnya.Begitupun Istri yang merupakan seorang Bidadari,pulang ke khayangan dan putranya juga ikut ke khayangan bersama ibunya sendiri,karena Ibu Paerunan telah mendapatkan slendang miliknya yang dahulu dicuri oleh Polo Padang.Polo Padang dan keuarganya pun harus di pisahkan takdir untuk selamanya.
           Hari demi hari pun berlalu.Polo Padang yang sudah ditinggal istri dan anak untuk selamanya harus hidup sebatang kara untuk yang kedua.Tahun demi tahun pun berlalu.Polo Padang pun semakin bertambah usia.Semakin hari tenaga dan ingatannya semakin berkurang.
           Pada suatu waktu,Polo Padang duduk termenung disuatu kursi tua,menghadap kearah ladang yang sudah mengering.
 “Jika kebun ini tidak ditanami,darimana aku mengambil makan untuk sehari-hari,aku tidak ingin dikasihani oleh tetangga,aku harus mandiri”,begitu pikir Polo Padang.
Seringkali,banyak tetangga yang datang memberi sedikit makanan untuk Polo Padang. Setiap kali perasaan Polo Padang tidak enak,dengan merepotkan tetangganya itu.Keesokan harinya,masih pagi-pagi sekali,Polo Padang sudah bergegas ke ladang.Semburat jingga masih tertahan di ufuk timur dan ayam mulai berkokok,membangunkan Polo Padang untuk menyambut hari baru.
 “kukkuruyuk,kukkuruyuk”, ayam pun mulai berkokok.
Terdengarlah langkah Polo Padang menuju ladang.Sesampainya di ladang,Polo Padang membersihkan ladangnya dari daun-daun kering dan menanam kembali tanaman baru.Hari demi hari belalu.Tanaman yang ditanam dan dibudidayakan Polo Padang pun tumbuh subur.
Suatu hari,di malam Jumat,Polo Padang tertidur pulas diatas ranjang yang terbuat dari bambu.Suasana desa saat itu tampak sunyi dan agak lain dari hari biasanya.Polo Padang bermimpi bertemu dengan istri dan anaknya.Dalam mimpi Polo Padang,dia bertemu dengan istri dan anaknya.
 “Paerunan..anakku.Marilah kita tinggal bersama”,sahut Polo Padang  kepada anaknya dalam mimpi.
Tetapi Paerunan tidak mau ikut dengan ayahnya.Paerunan ingin ayahnya yang tinggal bersama mereka.
“Ayah saja yang datang,untuk tinggal bersama kami!”,suruh Paerunan dalam mimpi.
Saat Paerunan selesai mengatakan itu dalam mimpi.Polo Padang terbangun dengan kagetnya.
 “Ha..baru kali ini,aku memimpikan anakku”,teriak Polo Padang.
Keesokan harinya,Polo Padang pergih memetik hasil kebun yang dia tanam sebelumnya.Semua jenis tanaman yang dia budidayakan,semuanya tumbuh subur.Mulai dari jagung,ubi,dan sayur-sayuran.Dia tidak menanam gandum lagi karena mengingat masa lalunya tentang gandum itu.Dia menggantinya dengan Padi.Tetapi dahulu,cara penanaman padi tidak sama dengan sekarang.Dahulu,Padi bisa ditanam di daerah yang tidak berlumpur.Padi ditanam di Kebun atau Perbukitan.Setelah selesai memanen hasil ladangnya.Polo Padang bergegas untuk pulang.Karena tangan penuh dengan kotoran,akhirnya Polo Padang mampir ke sumur untuk membersihkan tangannya.
Setelah selesai membersihkan tangannya,Polo Padang teringat dengan mimpinya tadi malam.Disitu,air mata Polo Padang turun bercucuran  akibat mengingat istri dan anaknya.Polo Padang terhenti di sumur itu dan duduk sejenak.Dalam benaknya,Polo Padang memikirkan untuk Bunuh diri,agar dia bisa pergih untuk menemui anak dan istrinya di alam sana.Saat itu,dia terus memikirkan hal itu.Hinggah pada akhirnya,Polo Padang, bunuh diri di sebuah pohon dekat sumur yang ditempati Bidadari untuk mandi.Polo Padang pun meniggalkan dunia ini untuk selamanya.

7 komentar:

  1. Sangat Menarik ceritanya, namun harus perlu membandingkan berbagai sumber sehingga ceritanya tidak rancau, karena menurut beberapa sumber yang saya pernah baca bahkan cerita nenek saya dulu waktu saya masih kecil (dongeng sebelum tidur) ada terlibat perannya seekor kerbau putih, seekor buaya. matahari dan bulan berperan juga dalam cerita tersebut. gunanya supaya cerita2 tersebut yang melegendah bisa 1 versi, kalau sudah banyak versinya akan kedengaran rancau. terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya yg saya dengar masih banyak binatang lg yg berperan dlm cerita itu

      Hapus
  2. JASMERAH (JANGAN SEKALI-SEKALI MELUPAKAN SEJARAH)
    KURRE SUMANGA' POLE PARAJA
    WASSALAM BIEL MAAF 🙏🏻

    BalasHapus
  3. The Star Grand at The Star Grand at The Star Gold Coast
    It was the 대구광역 출장마사지 first luxury 서산 출장안마 and luxury accommodation on the Gold Coast when 동해 출장마사지 the hotel's first two towers were constructed on 경기도 출장안마 8 April 김해 출장샵 2008,

    BalasHapus