POLO PADANG
Cerita
ini hanya berkembang dan diketahui orang Toraja yang sudah lanjut usia.Orang
sekarang ini yang ada di Toraja,semakin modern dan banyak melupakan
budaya-budaya Toraja.Sebenarnya cerita rakyat khususnya orang Toraja sangatlah
banyak.Akan tetapi,yang diketahui orang sekarang yaitu cerita itu-itu
saja.Terus diulang-ulang,karena kurangnya rasa ingin tahu yang tinggi.Contoh
cerita rakyat Toraja yang sudah sangat popular antara lain:Cerita
Landorundun,dan Tulang Didi.Cerita ini sudah sangat melegenda di Toraja bahkan
luar Toraja.Seperti cerita Landorundun yang saking populernya sampai dibuat
menjadi Novel.Tidak ada salahnya,jika kita mengetahui lebih banyak lagi cerita
rakyat yang belum banyak digali selama ini.Selain untuk menambah wawasan kita.Cerita
rakyat juga bisa menambah kekayaan budaya Indonesia.Dari situ,kita bisa
membangun karakter bangsa yang bermoral,teladan dan patut dicontoh oleh bangsa
lain.Cerita rakyat Polo Padang ini merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa
Indonesia secara umum,dan masyarakat Toraja secara khusus.
Dahulu,di daerah Toraja,secara khususnya
daerah Gantanan,Kecamatan Kesu’,ada seorang pemuda yang bernama Polo Padang.Dia
hidup sebatang kara.Ayah dan Ibunya sudah meninggal.Polo Padang lahir sekitar
seribu tahun lalu.Cerita rakyat ini sungguh terjadi sekitar seribu tahun
lalu.Sekarang di daerah itu,masih ada sumur yang diyakini masyarakat
sekitar,sebagai tempat yang sering ditempati Polo Padang dan Para Bidadari
mengambil air dan mandi dahulu kala.Cerita Polo Padang ini,belum banyak
diketahui oleh orang awam.
Pada
suatu hari,Polo Padang sedang duduk termenung,memikirkan nasibnya yang sebatang
kara itu.Disaat itu,sampailah 7 Bidadari dari Khayangan atau dalam Bahasa
Toraja disebut Baine Maballo’.Ketujuh Bidadari tersebut,turun dari Khayangan
untuk mandi di sebuah sumur.Tidak jauh dari situ,Polo Padang duduk
termenung.Ketujuh Bidadari itu mandi dengan eloknya dengan rambut yang terurai
nan menggoda.Tak beberapa saat pun,Polo Padang mendengarkan ketujuh Bidadari
yang sedang asyiknya mandi.Mungkin Polo Padang sangat tergoda dengan Bidadari
tersebut,sehingga Polo Padang dengan hati-hatinya mengendap-endap ke tempat
permandian ketujuh Bidadari tersebut.Dia mengambil salah satu slendang dari
ketujuh Bidadari itu.Setelah selesai mandi,para Bidadari itu memakai kembali
pakaian mereka,dan tak lupa slendang yang berwarnah-warnih nan mengkilau.Akan
tetapi,kebahagiaan ketujuh Bidadari itu harus berubah menjadi kesedihan kepada
salah satu Bidadari .
“Slendang
milik aku mana?”,sahut salah satu Bidadari yang cantik nan menawan itu.Mereka
pun mulai mencari slendang itu,tetapi tidak ditemukan karena telah dibawa lari
oleh Polo Padang.
“Sudah saatnya kita pulang,kamu harus
tinggal,karena kamu tidak mempunyai slendang.Kamu tidak bisa pulang ke
Khayangan”,
sahut salah satu Bidadari.
Bidadari
tersebut pun harus pasrah dengan nasibnya.Bidadari yang lain pun berangkat ke
Khayangan dengan kibasan slendang mereka masing-masing.Bidadari tersebut pun
duduk termenung di atas batu sambil menangis dengan kerasnya.Saking
kencangnya,Polo Padang mendengar tangisan Bidadari itu dan datang
menghampirinya.
“Sedang apa kamu disini?”,Tanya Polo Padang
dengan pura-pura tidak tahu.
“saya ditinggal saudara-saudara saya,karena slendang saya hilang entah
kemana”
jawab Bidadari dengan seduh sedan disertai air
mata yang bercucuran turun dari kelopak mata nan anggun itu.
Tampaknya Bidadari itu sangat sedih.
“Apakah kamu mau,menjadi istriku,agar kita
bisa tinggal bersama untuk berladang” tanya Polo Padang dengan malunya.
Saat itu pun,Bidadari tersebut berhenti menangis dan berkata dalam hati “jika aku tidak menerimanya,dengan siapa aku
tinggal di Bumi ini”.
Tak
beberapa saat pun,Bidadari itu menerima permintaan Polo Padang.Akan
tetapi,Bidadari itu memberikan satu syarat yang harus dipenuhi oleh Polo
Padang.
“Saya menerima
permintaanmu,tetapi dengan satu syarat,kamu tidak boleh mengatakan perkataan
mengutuk,bersumpah,atau perkataan kurang baik dihadapanku”.
Seketika
itu juga Polo Padang langsung berjanji dan tak sabar memperistri Bidadari
cantik nan jelita tersebut.
Mereka pun hidup bersama,dan mereka memullai bercocok
tanam atau berkebun di lading milik mereka.Berbagai jenis bahan pangan, mereka
tanam dan budidayakan seperti Jagung yang dalam Bahasa Toraja disebut
Dalle,ubi,sayur-sayuran yang dalam Bahasa Toraja disebut Utan,dan gandum yang
dalam Bahasa Toraja disebut Kaise’.Polo Padang dan Bidadari tersebut hidup
bahagia dan beberapa bulan kemudian,mereka dianugerahi seorang putra yang
diberi nama Paerunan.Berselang beberapa hari kelahiran putra mereka,semua
tanaman yang mereka tanam dan budidayakan dahulu tumbuh subur dan menghasilkan
buah dari kerja kera mereka sepanjang hari.Ubi yang mereka tanam berisi
banyak,jagung berbuah banyak,sayur-sayuran tumbuh subur dan gandum atau Kaise’
berisi banyak.Tetapi kebahagiaan itu disertai dengan suatu masalah
baru.Berselang beberapa hari semua tanaman mereka tumbuh subur,akhirnya semua
tanaman mereka dimakan tikus.Polo Padang pun datang menghampiri dan semua
kebahagiaan itu menjadi kemarahaan,dengan penuh emosi.Saking emosinya Polo
Padang mengeluarkan kata-kata mengutuk kepada tikus itu dan Bidadari yang
merupakan istrinya mendengar dan lari keluar rumah menghampiri Polo Padang
“Apa
yang kamu katakan itu,kamu telah melanggar perjanjian kita sebelumnya,” dengan
penuh emosi Bidadari meniggalkan Polo Padang.
“Aku tidak
sengaja,tolong maafkan aku”.
jawab Polo Padang
dengan teriak kepada Bidadari yang pergih meniggalkannya.dengan cepatnya
Bidadari itu pun menuju Paerunan untuk dibawah pergih.Polo Padang berusaha
mengejar tetapi,dia tidak bisa menemukan jejak Bidadari tersebut.
“Ahh..payah..,kenapa
bisa aku menyebut perkataan itu,dasar payah” .Polo Padang pun menyesal dan
menyalahkan diri sendiri.
Hari
demi hari pun berlalu,sepanjang hari Polo Padang selalu melamun mengingat masa
lalunya yang berpisah dengan istri dan seorang putranya.Entah dimana istri dan
putranya berada.
“Ahh..kapan
ya,aku ketemu lagi dengan anak dan istriku”,pikir Polo Padang sambil menggaruk
kepalanya seperti orang yang tidak waras.
Di suatu hari,Polo Padang duduk termenung di
bibir sumur entah apa yang dipikirkan.Tak beberapa saat pun Polo Padang melihat
beberapa gadis yang berjalan hamper bersamaan sambil membawa kendi atau dalam
Bahasa Toraja disebut Lampa untuk diisi air.Pelan-pelan Polo Padang mendekati
para gadis itu dan bertanya
“sedang
apa kalian disini?” tanya Polo Padang dengan penasarannya. “Kami akan mengambil air untuk memandikan
Paerunan”, jawab para gadis itu.
Gadis-gadis tersebut
merupakan suruhan Bidadari yang merupakan istri Polo Padang sebelum akhirnya
mereka berpisah.Polo Padang pun segera mengambil Gasing Emas yang merupakan
mainan anaknya yang selalu dia bawa kemana pun dia pergih.Polo Padang
memasukkan Gasing Emas itu kedalam salah satu kendi gadis-gadis itu,dengan
harapan Gasing Emas itu bisa dilihat istri dan anaknya yang rindukannya.Setelah
mengambil air,para gadis itu segera bergegas untuk pulang memandikan
Paerunan.Jalan setapak dilalui para gadis itu untuk sampai ke rumah Paerunan.Tak
beberapa lama kemudian,gadis-gadis itu sampai dengan masing-masing membawa
kendi yang sudah diisi air dari sumur.Bidadari atau ibu Paerunan menyuruh agar
segera menuangkan air itu kedalam kendi yang lebih besar untuk memandikan
Paerunan.
“Ayo..tuangkan
semua air kedalam kendi ini!”,suruh ibu Paerunan. Para gadis itu pun
menuruti permintaan ibu Paerunan dan langsung menuangkan satu persatu air dalam
kendi ke kendi yang lebih besar lagi.Akan tetapi saat gadis yang terakhir menuangkan airnya,terdapat Gasing Emas yang
ikut tertumpah kedalam kendi yang secara diam-diam dimasukkan oleh Polo Padang
agar anak dan istrinya melihat.Ibu Paerunan melihat Gasing Emas itu.Saat itu
Ibu Paerunan langsung terkaget dengan keberadaan Gasing Emas itu atau dalam
Bahasa Toraja disebut Gasing Bulaan.
“Apakah tadi kalian bertemu dengan
seseorang?”,tanya Ibu Paerunan. “Ya..,kami bertemu dengan seorang
lelaki”,jawab gadis-gadis itu.
Hati Ibu Paerunan pun langsung kaget dan
membayangkan sesosok Polo Padang yang merupakan suaminya.Ibu Paerunan pun
menyuruh para gadis untuk tidak memberitahukan dimana keberadaan Paerunan jika
mereka bertemu lagi dengan orang itu.Karena Ibu Paerunan tahu,bahwa lelaki itu
adalah Polo Padang.Entah kenapa Ibu Paerunan tidak mau menunjukkan Paeruan
kepada Polo Padang.Di hari itu pula,Polo Padang terus menangis mengingat istri
dan anaknya,karena dia sangat merindukan mereka yang merupakan darah daginnya.
Lalu datanglah para gadis yang
merupakan suruhan Ibu Paerunan menghambur Gandum atau dalam Bahasa Toraja
disebut Kaise.Mereka menyuruh Polo Padang untuk memungut kembali.
“Jika
kamu memang ingin bertemu dengan anakmu,pungutlah Gandum ini terlebih dahulu
dari tanah!”,suruh gadis itu.
Bagaimana bisa Gandum sekecil itu dipungut
kembali dari tanah.Polo Padang pun langsung menuruti permintaan para gadis demi
bertemu dengan anaknya.Saat itu Polo Padang beruntung.Dia bertemu dengan seekor
Jalak Hitam yang bisa bicara.
“Tenanglah Polo Padang aku akan
membantumu memungut kembali Gandum itu”,sahut Burung Jalak Hitam itu.
Polo Padang sangat kaget saat mendengar Burung bisa bicara.Tanpa
berpikir panjang Polo Padang menerima tawaran si Burung Jalak.
“Baiklah,aku menerima tawaranmu”,jawab
Polo Padang dengan wajah yang berseri-seri entah dia sangat senang atau alasan
lain. Maka
terpungutlah Gandum-gandum itu dengan bantuan Jalak Hitam yang mematok satu
persatu dengan parunya,hingga pada akhirnya
semua gandum yang ada di tanah berhasil dikumpulkan kembali berkat
bantuan si Jalak Hitam.
“Terimakasih Jalak,engkau sudah
meringankan pekerjaanku”,sahut Polo Padang begitu senangnnya.
Semua Gandum itu sudah terpungut
habis,Polo Padang pun berjalan menuju para gadis membawa kembali Gandum yang
sudah dipungutnya.
“Tugas saya sudah selesai,apakah saya sudah saya?”,tanya
Polo Padang.
“Bukan berarti tugasmu selesai,kamu harus menyelsaikan tugas kedua yang
diperintahkan Ibu Paerunan”,jawab gadis-gadis itu.
“Tugas apa itu?”,tanya Polo Padang dengan
penasaran. “Kamu harus mencabut smeua ubi yang ada
diladangmu!”,suruh para gadis. “Baiklah aku akan melaksanakannya demi bertemu
dengan anak dan istriku”.
Tentu tugas kedua ini sangat berat.Bagaimana
tidak,dia harus mencabut semua ubi yang ada diladang yang lumayan besar.Polo
Padang pun melaksanakan tugasnya itu dengan senang hati.Keringat Polo Padang
sudah mulai bercucuran.Tetapi ubi yang dia cabut baru dua tangkai,belum
semuanya.Sungguh pekerjaan yang sangat berat.Tiba-tiba,datanglah seekor Ulat
Tanah yang juga bisa bicara.Lagi-lagi Polo Padang terkaget dengan Ulat yang
bisa bicara.
“Bagaimana bisa kamu bicara?”,tanya Polo
Padang dengan terheran-heran. “Tenang,kamu tidak perlu takut,aku adalah hewan
biasa yang diberi keistimewaan oleh yang kuasa,apakah kamu mau Polo Padang
untuk kami bantu memakannya,agar cepat selesai.”,sahut Ulat Tanah.
“Tentu aku mau!”,jawab Polo Padang dengan senangnya.
Tak beberapa lama kemudian semua ubi yang ada
diladang ludes, habis dimakan Ulat Tanah.Tentu hal itu sangat menggembirakan
bagi Polo Padang,karena pekerjaannya cepat selesai.Itu artinya,Polo Padang bisa
bertemu dengan anak dan istrinya. “Terimakasih Ulat,kamu telah
membantuku”,sahut Polo Padang. Dia
berterimakasih kepada Ulat Tanah yang telah membantunya.Setelah memakan semua
ubi yang ada diladang milik Polo Padang,Ulat itu dan kawannya berubah ukuran
dari sangat kecil hingga seperti jempol orang dewasa.Polo Padang sangat geli
melihat ulat-ulat itu berubah ukuran menjadi besar.Dia pun bergegas untuk
pergih ke rumah istri dan anaknya,dengan ditemani beberapa gadis suruhan Ibu
Paerunan untuk menunjukkan jalan.Saat mereka sampai di depan rumah istri dan
anaknya,Polo Padang hendak membuka pintu depan rumah istri dan anaknya,tetapi
tidak bisa dibuka.Polo Padang ingin mencari bantuan kepada para gadis
tadi,tetapi para gadis tersebut hilang tak tahu kenapa.Saat itu Polo Padang
semakin terheran-heran,mengingat hari itu semua hal yang dilakukannya selalu
datang hal-hal aneh diluar pikiran sehatnya.Mulai dari Jalak Hitam dan Ulat
Tanah yang bisa bicara,hingga para gadis yang sekejap menhilang.Di depan pintu
rumah istri dan anaknya yang tidak bisa dibuka,Polo Padang langsung berlutut
menangis dan memintah ampun kepada yang Kuasa atas segala salahnya sampai dia
tidak bisa bertemu dengan anak dan istrinya sendiri.Betapa malang nasib Polo Padang.Polo
Padang pun terus menangis hingga seekor tikus datang mengampirinya dan berkata,
“kenapa
kamu menangis Polo Padang?”,tanya seekor Tikus.
Lagi-lagi Polo Padang menemukan hal aneh.
“Aku
sangat ingin bertemu dengan anakku,tetapi pintunya tidak bisa dibuka”,jawab
Polo Padang.
“Tenanglah Polo Padang,aku akan membantumu
dengan menggigitnya agar pintunya bisa terbuka”,sahut Tikus.
“Krek..krekk..krekk”,tikus pun beraksi untuk
menggigitnya.Tak beberapa lama kemudian,pintunya terbuka.
“Terimakasih Tikus,engkau telah
membantuku”,sahut Polo Padang kepada Tikus.Tetapi,Polo Padang harus menghadapi
masalah lagi.Setelah rumah itu terbuka,didalamnya sangat gelap.Polo Padang
tidak bisa melihat apapun didalam rumah itu.Lagi-lagi dia harus menemui
keanehan.Polo Padang bertemu dengan seekor Kunang-kunang,atau dalam bahasa
Toraja disebut Luppepe’.
“Tenanglah Polo Padang,kami akan membantumu
untuk menerangi rumah ini.Jika nanti kami berkumpul di suatu sudut ruamh
ini,disitulah tempat istri dan anakmu”.Polo Padang hanya terdiam
terheran-heran.
Tetapi,dia
akhirnya menerima petunjuk Kunang-kunang.Beberapa lama kemudian,Polo Padang
melihat sekumpulan Kunang-kunang di salah satu sudut rumah dan mempersatukan
terang yang ada di pantat mereka.Polo Padang pun melangkah ke sudut rumah itu
secara pelan-pelan dan akhirnya perkataan Kunang-kunang itu benar.Disitu ada
istri dan anaknya yang sedang duduk berpangkuan diatas sebuah kursi tua.Saat
itu Polo Padang sangat senang dan berbahagia.
“Anakku…Istriku..terimakasih Tuhan…!”,teriak
Polo Padang saat melihat anak dan istrinya.
Saking
senangnya, Polo Padang ingin memeluk anak dan istrinya,tetapi Ibu Paerunan
tidak mengijinkannya.Dengan maksud agar anaknya terhindar dari dosa abadi yang
dilakukan Polo Padang dahulu.Hanya sekejap melihat,Polo Padang disuruh untuk
pulang karena telah melihat anaknya.
“Pulanglah
Polo Padang..,kamu telah melihat putramu,sekarang kembalilah ke asalmu semula
untuk kembali berladang”,perintah Ibu Paerunan.
“Walaupun aku tidak bisa memeluk
anakku..,melihatnya saja sudah cukup.Baiklah kalau itu yang engkau mau,aku akan
pulang”,jawab Polo Padang dengan perasaan sedih dan tetesan air mata.
Walaupun
hanya sekejap melihat anak dan istrinya,Polo Padang sangat bersyukur karena
harapannya selama ini telah tercapai yaitu bertemu dengan anak dan
istrinya.Polo Padang pun kembali ke rumahnya.Begitupun Istri yang merupakan
seorang Bidadari,pulang ke khayangan dan putranya juga ikut ke khayangan
bersama ibunya sendiri,karena Ibu Paerunan telah mendapatkan slendang miliknya
yang dahulu dicuri oleh Polo Padang.Polo Padang dan keuarganya pun harus di
pisahkan takdir untuk selamanya.
Hari demi hari pun berlalu.Polo
Padang yang sudah ditinggal istri dan anak untuk selamanya harus hidup sebatang
kara untuk yang kedua.Tahun demi tahun pun berlalu.Polo Padang pun semakin bertambah
usia.Semakin hari tenaga dan ingatannya semakin berkurang.
Pada suatu waktu,Polo Padang duduk
termenung disuatu kursi tua,menghadap kearah ladang yang sudah mengering.
“Jika kebun ini tidak ditanami,darimana aku
mengambil makan untuk sehari-hari,aku tidak ingin dikasihani oleh tetangga,aku
harus mandiri”,begitu pikir Polo Padang.
Seringkali,banyak
tetangga yang datang memberi sedikit makanan untuk Polo Padang. Setiap kali
perasaan Polo Padang tidak enak,dengan merepotkan tetangganya itu.Keesokan
harinya,masih pagi-pagi sekali,Polo Padang sudah bergegas ke ladang.Semburat
jingga masih tertahan di ufuk timur dan ayam mulai berkokok,membangunkan Polo
Padang untuk menyambut hari baru.
“kukkuruyuk,kukkuruyuk”, ayam pun mulai
berkokok.
Terdengarlah
langkah Polo Padang menuju ladang.Sesampainya di ladang,Polo Padang
membersihkan ladangnya dari daun-daun kering dan menanam kembali tanaman
baru.Hari demi hari belalu.Tanaman yang ditanam dan dibudidayakan Polo Padang
pun tumbuh subur.
Suatu
hari,di malam Jumat,Polo Padang tertidur pulas diatas ranjang yang terbuat dari
bambu.Suasana desa saat itu tampak sunyi dan agak lain dari hari biasanya.Polo
Padang bermimpi bertemu dengan istri dan anaknya.Dalam mimpi Polo Padang,dia
bertemu dengan istri dan anaknya.
“Paerunan..anakku.Marilah kita tinggal
bersama”,sahut Polo Padang kepada
anaknya dalam mimpi.
Tetapi
Paerunan tidak mau ikut dengan ayahnya.Paerunan ingin ayahnya yang tinggal
bersama mereka.
“Ayah
saja yang datang,untuk tinggal bersama kami!”,suruh Paerunan dalam mimpi.
Saat
Paerunan selesai mengatakan itu dalam mimpi.Polo Padang terbangun dengan
kagetnya.
“Ha..baru kali ini,aku memimpikan
anakku”,teriak Polo Padang.
Keesokan
harinya,Polo Padang pergih memetik hasil kebun yang dia tanam sebelumnya.Semua
jenis tanaman yang dia budidayakan,semuanya tumbuh subur.Mulai dari
jagung,ubi,dan sayur-sayuran.Dia tidak menanam gandum lagi karena mengingat
masa lalunya tentang gandum itu.Dia menggantinya dengan Padi.Tetapi dahulu,cara
penanaman padi tidak sama dengan sekarang.Dahulu,Padi bisa ditanam di daerah
yang tidak berlumpur.Padi ditanam di Kebun atau Perbukitan.Setelah selesai
memanen hasil ladangnya.Polo Padang bergegas untuk pulang.Karena tangan penuh
dengan kotoran,akhirnya Polo Padang mampir ke sumur untuk membersihkan
tangannya.
Setelah
selesai membersihkan tangannya,Polo Padang teringat dengan mimpinya tadi
malam.Disitu,air mata Polo Padang turun bercucuran akibat mengingat istri dan anaknya.Polo
Padang terhenti di sumur itu dan duduk sejenak.Dalam benaknya,Polo Padang
memikirkan untuk Bunuh diri,agar dia bisa pergih untuk menemui anak dan
istrinya di alam sana.Saat itu,dia terus memikirkan hal itu.Hinggah pada
akhirnya,Polo Padang, bunuh diri di sebuah pohon dekat sumur yang ditempati
Bidadari untuk mandi.Polo Padang pun meniggalkan dunia ini untuk selamanya.
Sangat Menarik ceritanya, namun harus perlu membandingkan berbagai sumber sehingga ceritanya tidak rancau, karena menurut beberapa sumber yang saya pernah baca bahkan cerita nenek saya dulu waktu saya masih kecil (dongeng sebelum tidur) ada terlibat perannya seekor kerbau putih, seekor buaya. matahari dan bulan berperan juga dalam cerita tersebut. gunanya supaya cerita2 tersebut yang melegendah bisa 1 versi, kalau sudah banyak versinya akan kedengaran rancau. terimakasih
BalasHapusSebenarnya yg saya dengar masih banyak binatang lg yg berperan dlm cerita itu
Hapusngawurr
BalasHapusAgak rancau ya
BalasHapusAgak rancau ya
BalasHapusJASMERAH (JANGAN SEKALI-SEKALI MELUPAKAN SEJARAH)
BalasHapusKURRE SUMANGA' POLE PARAJA
WASSALAM BIEL MAAF 🙏🏻
The Star Grand at The Star Grand at The Star Gold Coast
BalasHapusIt was the 대구광역 출장마사지 first luxury 서산 출장안마 and luxury accommodation on the Gold Coast when 동해 출장마사지 the hotel's first two towers were constructed on 경기도 출장안마 8 April 김해 출장샵 2008,